MY FATHER, MY HERO

Dia adalah sosok yang gagah, dialah figur yang saya anggap sebagai pahlawan. Tulang punggung rumah tangga dan juga pemimpin di keluarga. Dia memiliki pribadi yang baik dan bijak dalam membuat keputusan. Sosok itu adalah Ayah saya bernama Teddy Indra Kurniawan, lahir pada tanggal 26 juni 1965.
Sebagai sosok kepala keluarga dia suka nasihat memberi saya nasihat, ketika saya masih sekolah menginjak pendidikan SD, ayah selalu marah dengan kesalahan yang saya perbuat. Namun ayah tidak asal marah karena itulah caranya memberi nasihat, contoh saya pernah berbohong tidak mengerjakan tugas sekolah, saat itu juga ayah menasihati saya dengan suara keras, dia berharap dengan caranya menasihati bisa membangun kepribadian saya lebih baik.
Dia adalah sosok yang pemberani dan bertanggung jawab. Di masa ayah belum pensiun dia bekerja di Freeport Timika sebagai karyawan facilitas management, sedangkan saya berada di Surabaya menghadapi pendidikan ditemani keluarga. Perjuangannya ayah diterima bekerja di papua tidak mudah, ketika menginjakkan kaki di tanah papua, ayah bekerja sendirian, dia tidak ada teman yang membantunya melamar kerja, syukur-syukur karena perjuangan dan gelar pendidikan S1 dia dapat diterima kerja.
Pada saat itu kawasan freeport sering terjadinya kasus penembakkan, keluarga di Surabaya kadang khawatir mengingat keberadaan ayah penuh ancaman. Walaupun situasi diluar sana agak berbahaya, ayah sama sekali tidak takut. Dia tetap berani bekerja mati-matian disana agar bisa menafkahi rumah tangga.
Sosok ayah bagi hanya bukan hanya sebagai kepala keluarga, dia juga sebagai sosok yang saya anggap sahabat. Ketika saya mengalami masa sulit, ayah selalu hadir disamping saya sebagai teman curhat, pernah saya merasa terpuruk setelah gagal meraih penghargaan atau gagal mendapat nilai terbaik di Sekolah, disitulah ayah selalu menyemangati saya, memberi saran dan memberi kalimat motivasi.
Dia selalu memberi tau bahwa kalah menghadapi suatu tantangan adalah hal wajar, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, ayah selalu mengingatkan untuk belajar dari kegagalan dan pengalaman adalah guru terbaik. Ketika saya mendekati kelulusan sekolah, saya mengira telah menemukan pilihan jurusan yang cocok untuk saya kuliah, namun menurut ayah pilihan yang saya buat masih tidak sesuai.
Awalnya saya ingin mengikuti jurusan sastra Indonesia, ayah memberi saran untuk menjelajahi internet untuk mencari jurusan lain karena dari jurusan sastra Indonesia peluang kerjanya sedikit. Dan pada akhirnya saya berminat untuk mengikuti jurusan sastra inggris dan desain komunikasi visual. Alhasil saya diterima kuliah di Universitas Dinamika jurusan desain komunikasi visual, sarjana 1.
Dimasa perkuliahan saya saat ini sangat menyenangkan dan tidak membuat saya menyesal. Saya sangat bersyukur ayah memberi saya arahan pada saat itu.